Awalnya aku berpikir kalo dia itu emang gitu, deket sama siapa
aja dan cuma biasa aja. aku udah liat itu dari waktu kita kepuncak pertama.
Mobil mogok dan kita semua terpaksa harus mendorongnya. Lalu salah satu orang
yang juga berada disana meminta dibelikan minum. Tanpa mengajakku kamu pergi
dengannya, berdua. aku pun tak ingin jauh ketinggalan kamu, jadi aku
berinisiatif ikut bersama k’olive.
Tapi apa yang terjadi? kamu malah jalan terus dengan dia
tanpa menghiraukan aku, berjalan cepat meniggalkan aku bersama k’olive. Dia yg
memakai sepatu berhak tinggi jalan di bebatuan dan dengan manjanya meminta kamu
supaya memeganginya.
Sadarkah kau betapa cemburunya aku?
Semuanya tak ku anggap, kulupakan semuanya!
Tapi apa semuanya itu berakhir? TIDAK!
Semua seakan malah bertambah jelas. Kita pergi kepuncak
untuk yang kedua kalinya, kali ini dya ikut. Aku sama sekali tak curiga saat
dia ingin duduk dibelakang ditempatku, disampingmu. Baiklah aku yang mengalah,
aku duduk ditengah dengan dya. Lalu aku tak kuasa menahan rinduku, aku ingin
bersamamu. Aku pun meminta pindah ke belakang bergantian dengan seorang anak
kecil. Aku duduk diantara kamu dan dia, tapi apa yang terjadi? Dia ingin berada
disampingmu, dengan berjuta alasan aku menolak. Tapi aku tak tahan saat kamu
yang meminta, hancur sekali rasaku ini. Saat kau juga ingin disampingnya L
Rasanya semua tak adil bagiku…
Kita telah sampai, dan girangnya kita semua terjun kekolam
renang. Betapa manjanya dia selalu memanggil manggil namamu, dengan alasan tak
bisa berenang. Aku juga tak bisa tapi apa aku seperti dia yang terus saja
berusaha manja padamu. Aku benci melihatnya! Rasanya aku ingin menceburkan diri
kedalam kolam dan membiarkan tubuhku tenggelam didalamnya.
Saat pulang aku tak ingin dibelakang lagi. Aku tak ingin
melihat kau dengan dia bersama disampingku, dihadapanku. Akhirnya aku dan dya
duduk bersama di tengah. Aku disampingnya.
Dingin sekali cuaca saat itu, hujan dan AC mobil yang
dibiarkan terus menyala membuat suasana bertambah dingin. Tak sengaja aku
menyentuh tangan dya, hangat sekali. Aku pun semakin ingin terus memegangnya,
tanpa sengaja kita pun berpegangan. Sela sela jarinya memasuki jariku,
menggenggamnya dengan erat, akupun tak bisa melepaskan kehangatan itu.
Dalam pikiranku, aku berkhayal seandainya dya adalah kamu,
kamu yang menggenggam jari jemariku. Tak akan pernah kulepaskan jika itu kamu.
Tapi itu semua tak mungkin, jelas jelas kau lebih ingin disampingnya daripada
aku. Betapa jahatnya kamu! Kututupi semua rasa kecemburuanku itu. Aku tak ingin
ada seorangpun yang mengetahuinya. Tak ingin seorangpun tau aku mencintaimu.
Andai kau tau aku disini, selalu disini menunggumu L