RINGKASAN
LAYAR TERKEMBANG
Judul : Layar Terkembang
Pengarang :St. Takdir Alisjahbana
Penerbit : Balai Pustaka
Pintu yang berat itu berderik
terbuka
dan dua orang gadis masuk kedalam gedung akuarium. Gadis berdua itu adik dan
kakak, hal itu terang keliatan pada air mukanya. Tuti yang tertua diantara dua
saudara itu, telah dua puluh lima tahun usianya, sedang adiknya Maria baru dua
puluh tahun. Mereka ialah anak Raden Wiriaatmaja, bekas wedana didaerah Banten.
Sekarang
pada hari minggu, kedua saudara itu pergi melihat- lihat akuarium dipasar ikan.
Dan meskipun telah beberapa kali ia mengunjungi gedung akuarium ituselama ia di
Jakarta, tiada jemu- jemunya ia melihat ikan- ikan yang permai itu melompat-
lompat kecil, ditariknya tangan kakaknya. Tuti mendekat dan melihat menurut
arah telunjuk Maria, ia pun berkata, “Ya, bagus.” Tetapi suaranya amat
berlainan dari adiknya, tertahan, berat. Tuti bukan seorang yang mudah kagum,
yang mudah heran melihat sesuatu. Sebaliknya Maria seorang yang mudah kagum, yang
mudah memuji dan memuja. Sementara itu, kumpulan pemuda Belanda telah dekat
kepada mereka. Dalam percakapan dengan tiada sengaja, terdengar kepada Maria
bahwa nama pemuda itu Yusuf.
Yusuf
ialah putra Demang Munaf di Martapura di Sumatera Selatan. Telah hampir lima
tahun ia belajar pada sekolah tabab tinggi. Sejak kembali dari mengantarkan
Tuti dan Maria, pikirannya senantiasa berbalik- balik saja kepada mereka
berdua. Tetapi tidak, yang terutama sekali menarik hatinya ialah Maria. Mukanya
lebih berseri- seri, matanya menyinarkan kegirangan hidup dan bibirnya
senantiasa tersenyum menyingkapkan giginya yang putih.
Tuti
duduk membaca bukudiatas kursi kayu yang lebar dibawah pohon mangga. Sebelumnya
terdapat juga Maria, Ayah, dan Partadiharja yang sedang membicarakan hal. Maka
ramailah percakapan empat orang itu. Adalah sejam lamanya bercakap- cakap
tentang kongres Putri sedar yang berlangsung besok.
Palu
berbunyi berdegar beberapa kali ddiatas meja. Orang banyak yang kusut kacau
berserak dalam kongres besar itu. Bahwa pidato itu sangat penting, sebab
menggambarkan dengan nyata, bagaimana bagaimana kedudukan kedudukan perempuan
dalam masyarakat dimasa yang akan datang seperti dicita- citakan Putri Sedar .
Telah
sepuluh hari Yusuf pada orangtuanya di Martapura. Dalam sepuluh hari ini
sesungguhnya ia melepaskan lelah pergi mengikuti Sukarto menikmati keindahan
alam tanah leluhurnya. Namun ia ternyata tak dapat menahan rasa rindunya kepada
Maria.
Ketika
Yusuf tiba dirumah orangtuanya kembali, didapatinya surat pula dari Maria.
Dalam surat itu diceritakannya perjalanan setiap hari dengan Rukamah, saudara
sepupunya. Setelah habis surat itu dibacanya, Yusuf memutuskan untuk kembali ke
Jakarta dan ingin segera bertemu dengan Maria di Bandung. Pemuda itu pun segera
meninggalkan Martapura. Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria
dan Tuti.
Yusuf
dan Maripun melepas rindu masing- masing dengan berjalan- jalan disekitar air
terjun Dago. Perlahan- lahan Yusuf mengangkat muka Maria melihat kepadanya,
“Maria, lihat saya sebentar..., tahukah engkau saya cinta padamu?” Badan Maria
pun melemah jatuh ketangan Yusuf, keluar dari mulutnya bisik lesu,”Lama benar
engkau menyuruh saya menanti katamu...”Tak dapat lagi Yusuf meneruskan
ucapannya, berlimpahan perasaan cinta pertama yang penuh harapan.
Maria
telah menceritakan kepada Tuti bahwa ia telah berjanji kepada Yusuf akan
menjadi istrinya di kemudian hari. Waktu itu selaku tidak dapatlah ia menahan
hatinya akan memberi nasihat kepadanya. Dengan suara yang benar menyatakan
tiada senang hatinya mendengar nasihat saudaranya itu, katanya,”Saya cinta
kepadanya dan nasib saya akan saya serahkan ditangannya. Engkau tidak usah
memperdulikan urusan saya! Saya tidak minta nasihatmu!” Tuti seraya oleh
amarah,”Tutup mulutmu yang lancang itu.” Maria tiba- tiba pergi kekamar itu dan
ditempat tidur diam terlentang Maria dengan hati yang iba bercampur sebal dan
amarah.
Sejak
dari sudah makan pukul delapan tadi pikiran Tuti sering melayang- layang,
gelisah, tidak tentu arahnya. Tetapi dalam ia melawan perasaan yang
menggelombang didalam jiwanya, selaku terdengar ditelinganya suara Maria
pedas,”Cinta engkau barangkali cinta perdagangan, baik-buruk engkau timbang
sampai semiligram. Patutlah pertunanganmu dengan Hambali putus.” Dan dalam
gelap dikamarnya itu dengan tiada diketahuinya tangannya menghapus air mata
yang panas mengalir pada pipinya.
Maria
menarik kursi dekat Tuti dan agak mengeluh duduknya ia dekat saudaranya itu,
seraya berkata,”Mengapakah bada saya selalu amat letih kalau sudah main
tennis?”
“Barangkali
engkau tidak baik main sport.” Jawab Tuti melihat adiknya yang sesungguhnya
agak letih rupanya, meskipun ia segar baru mandi. “Baiklah engkau suruh periksa
badanmu kepada dokter atau berhentilah main tenis itu.”
“Ah,
saya tidak mau diperiksa dokter.” Ujar Maria. “Barangkali letih saya itu sebab
saya belum lama benar main tenis. Awak belum biasa.”
Maria
terbaring ditempat tidur dalam kamarnya, letih hampir tiada bergerak- gerak.
Demam malaria sepuluh hari amat mengurus dan memucat mukanya. Sekarang pun ia
masih belum sembuh, tetapi oleh karena panasnya sedang turun, dapatlah ia
terlelap sebentar.
Lalu
keluarlah Tuti dari kamar Maria masuk ke kamarnya. Pekerjaan yang pertama
sekali ialah membuka sampul surat dari Supomo. Bersinar-sinar matanya menelan
segala yang tertulis didalamnya. Supomo menceritakan bahwa telah lama ia
mencintainya, tetapi selama itu cintanya disimpan saja didalam hatinya, hingga
akhirnya ia tiada dapat menyimpan lagi.
Tiba-
tiba Tuti terkejut mendengar Maria batuk dan Yusuf seperti orang kecemasan
memanggil Juhro minta diambilkan tempolong. Cepat ia berdiri dari tempat
tidurnya. Tiba dikamar Maria nampak kepadanya adiknya itu muntah mengeluarkan
darah dari mulutnya kedalam tempolong yang dipegang oleh Yusuf.
Tiada
berapa lamanya datanglah dokter yang dipanggil Yusuf. Maria diperiksanya sangat
telitidan akhirnya ia tiada sangsi lagi bahwa Maria mendapat penyakit batuk
darah. Sakit malaria yang sangat melemahkan badannya rupanya memberi kesempatan
kepada penyakit TBC yang sudah lama di-kandungnya dalam badannya untuk memecah
keluar. Kepada Yusuf diberi dokter itu nasehat selekas- lekasnya membawa Maria
kerumah sakit supaya disana dapat diperiksa dan diobat selanjutnya.
Tidak
sekali- kali Tuti menyesal menolak pinangan Supomo itu, malahan kadang- kadang
ia mengucapkan syukur tiada teralahkan oleh perasaan kehampaan dan kesunyian
yang menyelinap kedalam hatinya dengan tiada setaunya itu.
Kepala
Maria digelengkan diatas bantal, ada sesuatu didalam hatinya yang masih
menghambatnya mengeluarkan pengakuan yang telah beberapa hari menjadi buah
pikirannya. Sekejap berkerut mukanya, nampak ia mengeraskan memaksa hatinya dan
teruslah ia berkata, agak jelas dari tadi,”Alangkah berbahagia saya rasanya
diakhirat nanti, kalau saya tau, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan
berkasih- kasihan seperti kelihatan ke[ada saya dalam beberapa hari ini...”
Tuti
dan Yusuf terkejut mendengar perkataan yang penghabisan itu. Pada mata mereka
nyata kelihatan, bahwa mereka hendak membantah, tetapi sebelum mereka dapat
mengucapkan perkataannya, Maria telah menyambung pula,”Inilah permintaan saya
yang penghabisan dan saya, saya tidaklah rela selama-lamanya, kalau kakandaku
masing- masing mencari peruntungan pada orang lain.”
Sekali
lagi Tuti dan Yusuf memberi nasihat kepada Maria, sekali lagi mereka
mengatakan, bahwa ia mesti sembuh, maka diucapkan merekalah selamat tinggal
kepada juru rawat dan Maria. Yusuf dan Tuti terus berjalan menurun ke bawah
menuju auto yang akan membawa mereka kembali ke Sindanglaya.
Berbagai-
bagai pikiran dan perasaan mengacau jiwa mereka.
peringkas :
- Ajeng Ruge
- Andre Susanto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar