Kamis, April 04, 2013

Ringkasan Layar Terkembang


RINGKASAN LAYAR TERKEMBANG
Judul          : Layar Terkembang
Pengarang :St. Takdir Alisjahbana
Penerbit     : Balai Pustaka


Pintu yang berat itu berderik terbuka dan dua orang gadis masuk kedalam gedung akuarium. Gadis berdua itu adik dan kakak, hal itu terang keliatan pada air mukanya. Tuti yang tertua diantara dua saudara itu, telah dua puluh lima tahun usianya, sedang adiknya Maria baru dua puluh tahun. Mereka ialah anak Raden Wiriaatmaja, bekas wedana didaerah Banten.
            Sekarang pada hari minggu, kedua saudara itu pergi melihat- lihat akuarium dipasar ikan. Dan meskipun telah beberapa kali ia mengunjungi gedung akuarium ituselama ia di Jakarta, tiada jemu- jemunya ia melihat ikan- ikan yang permai itu melompat- lompat kecil, ditariknya tangan kakaknya. Tuti mendekat dan melihat menurut arah telunjuk Maria, ia pun berkata, “Ya, bagus.” Tetapi suaranya amat berlainan dari adiknya, tertahan, berat. Tuti bukan seorang yang mudah kagum, yang mudah heran melihat sesuatu. Sebaliknya Maria seorang yang mudah kagum, yang mudah memuji dan memuja. Sementara itu, kumpulan pemuda Belanda telah dekat kepada mereka. Dalam percakapan dengan tiada sengaja, terdengar kepada Maria bahwa nama pemuda itu Yusuf.
            Yusuf ialah putra Demang Munaf di Martapura di Sumatera Selatan. Telah hampir lima tahun ia belajar pada sekolah tabab tinggi. Sejak kembali dari mengantarkan Tuti dan Maria, pikirannya senantiasa berbalik- balik saja kepada mereka berdua. Tetapi tidak, yang terutama sekali menarik hatinya ialah Maria. Mukanya lebih berseri- seri, matanya menyinarkan kegirangan hidup dan bibirnya senantiasa tersenyum menyingkapkan giginya yang putih.
            Tuti duduk membaca bukudiatas kursi kayu yang lebar dibawah pohon mangga. Sebelumnya terdapat juga Maria, Ayah, dan Partadiharja yang sedang membicarakan hal. Maka ramailah percakapan empat orang itu. Adalah sejam lamanya bercakap- cakap tentang kongres Putri sedar yang berlangsung besok.
            Palu berbunyi berdegar beberapa kali ddiatas meja. Orang banyak yang kusut kacau berserak dalam kongres besar itu. Bahwa pidato itu sangat penting, sebab menggambarkan dengan nyata, bagaimana bagaimana kedudukan kedudukan perempuan dalam masyarakat dimasa yang akan datang seperti dicita- citakan Putri Sedar .
            Telah sepuluh hari Yusuf pada orangtuanya di Martapura. Dalam sepuluh hari ini sesungguhnya ia melepaskan lelah pergi mengikuti Sukarto menikmati keindahan alam tanah leluhurnya. Namun ia ternyata tak dapat menahan rasa rindunya kepada Maria.
            Ketika Yusuf tiba dirumah orangtuanya kembali, didapatinya surat pula dari Maria. Dalam surat itu diceritakannya perjalanan setiap hari dengan Rukamah, saudara sepupunya. Setelah habis surat itu dibacanya, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan ingin segera bertemu dengan Maria di Bandung. Pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura. Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti.
            Yusuf dan Maripun melepas rindu masing- masing dengan berjalan- jalan disekitar air terjun Dago. Perlahan- lahan Yusuf mengangkat muka Maria melihat kepadanya, “Maria, lihat saya sebentar..., tahukah engkau saya cinta padamu?” Badan Maria pun melemah jatuh ketangan Yusuf, keluar dari mulutnya bisik lesu,”Lama benar engkau menyuruh saya menanti katamu...”Tak dapat lagi Yusuf meneruskan ucapannya, berlimpahan perasaan cinta pertama yang penuh harapan.
            Maria telah menceritakan kepada Tuti bahwa ia telah berjanji kepada Yusuf akan menjadi istrinya di kemudian hari. Waktu itu selaku tidak dapatlah ia menahan hatinya akan memberi nasihat kepadanya. Dengan suara yang benar menyatakan tiada senang hatinya mendengar nasihat saudaranya itu, katanya,”Saya cinta kepadanya dan nasib saya akan saya serahkan ditangannya. Engkau tidak usah memperdulikan urusan saya! Saya tidak minta nasihatmu!” Tuti seraya oleh amarah,”Tutup mulutmu yang lancang itu.” Maria tiba- tiba pergi kekamar itu dan ditempat tidur diam terlentang Maria dengan hati yang iba bercampur sebal dan amarah.
            Sejak dari sudah makan pukul delapan tadi pikiran Tuti sering melayang- layang, gelisah, tidak tentu arahnya. Tetapi dalam ia melawan perasaan yang menggelombang didalam jiwanya, selaku terdengar ditelinganya suara Maria pedas,”Cinta engkau barangkali cinta perdagangan, baik-buruk engkau timbang sampai semiligram. Patutlah pertunanganmu dengan Hambali putus.” Dan dalam gelap dikamarnya itu dengan tiada diketahuinya tangannya menghapus air mata yang panas mengalir pada pipinya.
            Maria menarik kursi dekat Tuti dan agak mengeluh duduknya ia dekat saudaranya itu, seraya berkata,”Mengapakah bada saya selalu amat letih kalau sudah main tennis?”
“Barangkali engkau tidak baik main sport.” Jawab Tuti melihat adiknya yang sesungguhnya agak letih rupanya, meskipun ia segar baru mandi. “Baiklah engkau suruh periksa badanmu kepada dokter atau berhentilah main tenis itu.”
            “Ah, saya tidak mau diperiksa dokter.” Ujar Maria. “Barangkali letih saya itu sebab saya belum lama benar main tenis. Awak belum biasa.”
            Maria terbaring ditempat tidur dalam kamarnya, letih hampir tiada bergerak- gerak. Demam malaria sepuluh hari amat mengurus dan memucat mukanya. Sekarang pun ia masih belum sembuh, tetapi oleh karena panasnya sedang turun, dapatlah ia terlelap sebentar.
            Lalu keluarlah Tuti dari kamar Maria masuk ke kamarnya. Pekerjaan yang pertama sekali ialah membuka sampul surat dari Supomo. Bersinar-sinar matanya menelan segala yang tertulis didalamnya. Supomo menceritakan bahwa telah lama ia mencintainya, tetapi selama itu cintanya disimpan saja didalam hatinya, hingga akhirnya ia tiada dapat menyimpan lagi.
            Tiba- tiba Tuti terkejut mendengar Maria batuk dan Yusuf seperti orang kecemasan memanggil Juhro minta diambilkan tempolong. Cepat ia berdiri dari tempat tidurnya. Tiba dikamar Maria nampak kepadanya adiknya itu muntah mengeluarkan darah dari mulutnya kedalam tempolong yang dipegang oleh Yusuf.
            Tiada berapa lamanya datanglah dokter yang dipanggil Yusuf. Maria diperiksanya sangat telitidan akhirnya ia tiada sangsi lagi bahwa Maria mendapat penyakit batuk darah. Sakit malaria yang sangat melemahkan badannya rupanya memberi kesempatan kepada penyakit TBC yang sudah lama di-kandungnya dalam badannya untuk memecah keluar. Kepada Yusuf diberi dokter itu nasehat selekas- lekasnya membawa Maria kerumah sakit supaya disana dapat diperiksa dan diobat selanjutnya.
            Tidak sekali- kali Tuti menyesal menolak pinangan Supomo itu, malahan kadang- kadang ia mengucapkan syukur tiada teralahkan oleh perasaan kehampaan dan kesunyian yang menyelinap kedalam hatinya dengan tiada setaunya itu.
            Kepala Maria digelengkan diatas bantal, ada sesuatu didalam hatinya yang masih menghambatnya mengeluarkan pengakuan yang telah beberapa hari menjadi buah pikirannya. Sekejap berkerut mukanya, nampak ia mengeraskan memaksa hatinya dan teruslah ia berkata, agak jelas dari tadi,”Alangkah berbahagia saya rasanya diakhirat nanti, kalau saya tau, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih- kasihan seperti kelihatan ke[ada saya dalam beberapa hari ini...”
            Tuti dan Yusuf terkejut mendengar perkataan yang penghabisan itu. Pada mata mereka nyata kelihatan, bahwa mereka hendak membantah, tetapi sebelum mereka dapat mengucapkan perkataannya, Maria telah menyambung pula,”Inilah permintaan saya yang penghabisan dan saya, saya tidaklah rela selama-lamanya, kalau kakandaku masing- masing mencari peruntungan pada orang lain.”
            Sekali lagi Tuti dan Yusuf memberi nasihat kepada Maria, sekali lagi mereka mengatakan, bahwa ia mesti sembuh, maka diucapkan merekalah selamat tinggal kepada juru rawat dan Maria. Yusuf dan Tuti terus berjalan menurun ke bawah menuju auto yang akan membawa mereka kembali ke Sindanglaya.
            Berbagai- bagai pikiran dan perasaan mengacau jiwa mereka.

peringkas :
- Ajeng Ruge
- Andre Susanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar